Aksi Unjuk Rasa Tolak “Full Day School” Berakhir Ricuh



Aksi unjuk rasa yang dilakukan puluhan mahasiswa yang tergabung Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di depan gedung DPRD Kota Surabaya berujung ricuh.
Kericuhan tersebut dipicu akibat massa yang berusaha masuk ke dalam gedung.

Dari pantauan di lokasi, awalnya mahasiwa yang berjumlah sekitar 50 orang melakukan orasi di depan pagar gedung DPRD kota Surabaya yang sudah tertutup dan dihadang puluhan personil polisi.

Di depan pagar, massa terus mendesak sambil membawa poster panjang. Namun, ketika seorang polisi berusaha menarik poster penolakan full day School tersebut, seorang mahasiswa mencoba mempertahankan dan saling tarik menarik poster.
Saat berusaha mempertahankan poster, terlihat lagi sejumlah petugas berusaha menarik bendera kebesaran PMII. Akibatnya, massa sempat emosi dan berupaya mendobrak pagar hingga terjadi aksi saling dorong.
Aksi dorong yang berlangsung sekitar 15 menit akhirnya berangsung redah, setelah normal aksi berupaya menenangkan. Untuk mencegah kericuhan susulan, perwakilan mahasiswa akhirnya dipersilahkan masuk
Diketahui, aksi tersebut merupakan penolakan sekolah lima hari penuh. Sebab,

dengan adanya Permen Nomor 13/2017, maka akan menguras energi bagi guru dan siswa.

“Peraturan Mendikbud Nomor 13/2017 tentang pendidikan tersebut, jelas akan menguras energi para siswa dan guru. Apalagi, tidak semua sekolah mempunyai infrastruktur yang memadahi.” kata Hefni, kerlap aksi, (9/8)
Hefni juga mengkhawatirkan, jika siswa dihadapkan pada proses kejenuhan, maka
imbas dari pendidikan full day school itu bisa berdampak pada krisisi moral dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

“Jika sudah demikian beban guru dan peran orang tua makin besar. Maka terjadilah generasi stres yang dialami bangsa ini,” tutupnya.
Oleh sebab itu, PMII menuntut pencabutan Permen 23/2017.

loading...

Subscribe to receive free email updates:

Related Posts :

loading...